Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2013

Cinta Diantara Benci

Cinta Diantara BenciOleh: A. Yenny

Mario terlempar dan sebuah bayangan seperti roh keluar dari tubuhnya. Badannya jatuh di lantai dan tidak bergerak-gerak lagi.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • •


"Hei!! Chin!! Tunggu aku dong!" teriak seseorang. Aku membalikkan badanku untuk mencari asal suara itu. Aku melihat Finda di gerbang sekolah melambai-ambaikan tangannya padaku, lalu dia berlari kencang menghampiriku.

"Chin, kamu sudah dengar kalau ada anak baru?" tanyanya, serius.

"Kamu dengar dari mana tuh gosip? Kok aku tidak tahu, ya."

"Makanya bergaul dong. Jangan hanya di kelas melulu saat istirahat. Dasar kutu buku." Ledek Finda. "Pasti kamu penasaran. Hari ini anak itu masuk di kelas kita. Katanya sih pindahan dari Irja. Kalau tidak salah sih namanya... Mario," sambungnya lagi.

Aku termangu, mendengar gosip Finda. Kami sudah tiba di kelas, ternyata belum banyak yang datang. Aku tidak terlalu memperhatikan siapa yang telah datang, kalau Finda tidak menyenggolku.

"Chin. Lihat cowok itu yang sedang membaca di sudut? Mungkinkah dia Mario?" bisiknya.

Mungkin dia mendengar bisikan Finda yang memang cukup keras hingga dia mengangkat wajahnya. Dia memandang kami dan tersenyum.

Tidak dirasa seminggu Mario di kelasku. Mulanya aku tidak pedulikan dia, tapi karena aku merasa tidak enak pada Finda, aku membantu dia mengajari pelajaran yang tertinggal. Tanpa dirasa belajar, ke kantin, ke perpustakaan, ke toko buku, dan kemana saja selalu kami lakukan bersama-sama.

Berkali-kali Mario ingin tahu alamat rumahku, tapi aku selalu tidak mau memberitahu padanya. Aku tidak ingin dia datang ke rumahku, karena aku malu dengan rumahku yang kecil. Sedangkan rumahnya sangat besar. Hingga suatu saat, aku tidak dapat menolaknya, karena tanpa pemberitahuan atau meminta izin dia datang ke rumahku.

"Rio, dari mana kau tahu alamatku?"

"Pokoknya tidak akan aku beritahu! Titik!"

Tiba-tiba Mama keluar menegurku. "Chintya, ada tamu kok tidak diberi minum?!"

"Wah sori... sori. Aku lupa." Aku tersenyum malu-malu. Aku langsung ke dapur. Aku tidak tahu telah terjadi hal apa. Saat aku keluar, aku mendapati Mario sendirian, berdiri di depan pintu sambil merenung. "Hei! Kamu datang kesini untuk melamun atau bertamu sih?!"

Mario kaget saat aku menepuk pundaknya dengan keras. Ia langsung membalikkan badan dengan kasar. Aku kaget dan lebih kaget lagi saat wajahnya keruh dan memerah.

"Rio, kenapa kamu?"

"Chin, apakah kedatanganku mengganggumu. Mengapa Mamamu tidak senang melihatku?!"

"Apa yang Mama katakan padamu?"

"Saat kamu masuk tadi, Mamamu menghampiriku. Tapi setelah bertemu muka denganku, aku melihat Mamamu kaget dan langsung berubah sikap padaku, agak ketus. Walaupun tidak secara langsung, Mamamu mengusirku. Apa salahku Chin?"

Dengan lesu ia duduk di sampingku. Berkali-kali aku dengar ia menarik napas panjang. Aku mengerti perasaannya, karena kau pun kebingungan dengan sikap Mama, padahal selama teman-temanku datang, Mama tidak pernah bersikap seperti ini.

"Chin, aku mau pulang. Tapi... boleh aku minta tolong?"

"Apa? Kalau aku bisa, pasti kutolong."

"Bisa kamu tanyakan pada Mamamu, mengapa Mamamu bersikap demikian kepadaku? Boleh?"

"Tentu saja boleh. Aku pun ingin mengetahuinya."

"Thanks. Tapi kamu mau berjanji, biarpun itu menyakitkan, kamu tetap memberitahuku?"

"Ya, aku janji."

Saat Mario pulang, aku sebenarnya ingin bertanya langsung pada Mama, tapi aku takut kalau Mama masih marah. Jadi kutunggu sampai hati Mamatenang, barulah aku bertanya.

Tapi aku tidak perlu tunggu terlalu lama. Dua hari kemudian, tanpa kutanya Mama memberitahu sendiri padaku. Saat Papa, Mama, aku dan Shintya, adikku, sedang makan malam, Papa menyuruh kami tetap di meja makan sehabis makan, karena ada yang Mama ingin bicarakan dengan kami.

"Chintya, Shintya, ada yang Mama bicarakan. Mungkin Chin sudah bisa ditebak, memang ini tentang temanmu yang bernama Mario."

Kami semua diam mendengarkan, tidak berani komentar. Aku semakin tegang, padahal tadi sudah agak tenang.

"Mama sebenarnya bukan tidak senang kamu bergaul dengan Mario, Chin. Dulu saat Mama masih pacaran dengan Papamu, Mama bertemu dengan papanya Mario. Mama hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Tapi ternyata Papanya Mario menganggap perhatian Mama lain. Dia ingin Mama jadi pacarnya, tapi Mama menolak." Mama langsung memandang Papa dengan mesra.

"Saat dia mengetahui Mama akan menikah dengan Papamu, dia marah sekali. Papanya Mario menculik Mama dan memaksa Mama agar menikahinya dengan menggunakan ilmu hitam. Untung Mamamu dapat selamat berkat nenekmu yang memiliki kemampuan telepati, sehingga tahu dimana Mama disembunyikan. Sekarang Shintya yang mewarisi bakat paranormal dari nenek, bisa meraba apa yang akan terjadi, tapi gunanya untuk kebaikan."

Aku memandang Shintya dengan terkagum-kagum. Shintya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar cerita Mama.

"Pantas saja Ma. Belakangan ini Shintya selalu ketakutan kalau Kak Chin keluar. Beberapa kali Shintya melihat Kak Chin akan mengalami kejadian buruk. Tapi karena takut nggak beralasan, Shintya diam saja..."

Kami semua terhenyak mendengar hal itu dan saling pandang memandang.

"Baiklah, Mama akan melanjutkan cerita ini."

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Papa memandang Mama.

"Aku baik-baik saja. Benar!" Mama menekan kata-katanya, saat melihat Papa masih ragu-ragu. Akhirnya Papa mengangguk setuju. Mama kemudian melanjutkan kisahnya.

"Sesudah mengetahui keberadaan Mama, Nenek langsung datang, membantu Mama melawan Papanya Mario dan dia dapat dikalahkan. Sebelum melarkan diri, dia bersumpah akan kembali membalas dendam. Karena itulah Mama takut saat bertemu dengan Mario. Wajah Mario sangat mirip dengan Papanya, seperti pinang dibelah dua. Apalagi saat Mama bertanya siapa nama Papa dan Mamanya."

Aku hanya termangu mendengar cerita Mama. Aku tidak tahu harus berkata apa. Ruang makan menjadi sangat sunyi. Hanya detak jam dinding saja yang berbunyi.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •



Sebenarnya aku ingin menceritakan pada Mario keesokan harinya. Tapi aku takut dia tidak menerima kenyataan, karena dia sangat taat beribadah. Dan entah kenapa, sejak kepulangannya dari rumahku tempo hari dia semakin hari makin menjauh dari. Dia tidak seperti dulu lagi.

Tidak dirasa sudah dua bulan berlalu. Aku semakin tidak mengerti dengan sikapnya yang bertambah dingin. Dia kini banyak bergaul dengan anak-anak nakal di sekolah. Sering bolos dan berkelahi.

Hingga suatu hari, sikapnya berubah kembali seperti dulu. Sangat manis dan bersahabat. Kemudian, ia mengajakku ke rumahnya. Aku pun sudah kangen dengan Mamanya yang sangat ramahdan baik, karena itu aku mau. Tanpa kusadari ia tidak membawaku ke rumahnya, tapi entah kemana.

"Sudah ampai! Ayo turun! Jangan melamun saja!" tegurnya kasar saat melihatku tidak turun-turun dari mobil. Aku kaget. Saat aku sadar dari lamunanku, aku mendapati sebuah rumah yang sangat kuno dan tidak terawat.

"Rio, ini dimana? Kamu bilang..."

"Ah, kenapa kamu lupa? Ini kan rumah kita! Ayo masuk!" Dia langsung menarik tanganku dengan kasar. Aku ketakutan melihat tingkahnya yang beringas, apalagi dia menyebutku dengan nama lain.

"Santi, inilah rumah kitadan anak-anak kita. Lihatlah, aku merawat rumah ini dengan baik, bukan?"

Banyak sekali ocehan Mario, tapi aku tidak mendengar lagi. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya melarikan diri. Tiba-tiba Mario menyodorkan gaun pengantin yang sangat cantik.

"San, bagaimana gaun pengantin ini? Aku membelikan untukmu. Ayo, cobalah dulu!"

"Dia menarik tanganku dan memaksaku mencoba gaun itu. Tapi aku menolak. Perlahan-lahan aku dapat menepis ketakutan yang menguasai diriku dengan terus berdoa. Mario marah sekali sampai wajahnya merah padam. Tiba-tiba aku sadar, yang di depanku bukanlah Mario temanku, tapi seseorang yang mirip dengannya. Mendadak akupun ingat kalau nama Mamaku adalah Santi. Apakah dia Papanya Mario yang merasuki tubuh anaknya?

Perlahan-lahan wajah Mario berubah sangat menyeramkan. Tiba-tiba aku melihat Shintya berdiri di pint. Aku ingin menyuruhnya pergi, tapi suaraku tidak dapat keluar lagi. Tidak lama di belakangnya muncul seseorang yang tidak kukenal. Saat Mario tahu siapa yang datang, ia bertambah marah, wajahnya makin menyeramkan. Tiba-tiba aku merasakan ada hawa panas dan hawa dingin di sekelilingku.

Ada satu hentakan yang membuat Mario terlempar dan sebuah bayangan seperti roh keluar dari tubuh orang itu. Tubuhnya jatuh di lantai dan tidak bergerak-gerak lagi. Hawa panas dan dingin perlahan-lahan hilang. Aku pun jatuh lemas di lantai dan tidak ingat apa-apa lagi.

Saat aku sadar, ternyata diriku berada di kamarku sendiri. Samar-samar aku mendengar suara orang bicara di ruang tamu. Dengan perlahan-lahan aku berjalan ke sana.

"Chin, kenapa kamu keluar?" tegur Mama sambil memapahku duduk di kursi tamu. Aku melihat ada Mamanya Mario.

"Chintya, Tante ingin mengucapkan terima kasih."

"Untuk apa Tante?" tanyaku heran. Aku mash belum ingat apa yang telah terjadi padaku.

"Kamu telah menolong Mario."

"Ma, Chintya masih bingung, Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

"Chin, kamu ingat saat Mario mengajakmu ke sebuah rumah?"

"Oh, iya iya, aku ingat sekarang, Ma."

"Nanti Mama jelaskan semuanya. Chin, Mama sekarang memperbolehkan kamu berteman lagi dengan Mario."

"Sungguh, Ma?! Terima kasih, Ma," aku langsung mencium Mamaku.

Aku sangat senang, karena aku sudah dapat berteman lagi dengan Mario. Sejak kejadian pada hari itu sikap Mario pun kembali seperti semula. Dan sejak kejadian ituPapanya tiba-tiba menghilang, tidak ada kabar beritanya.

Prestasinya di sekolah pun mulai meningkat lagi. Dan aku bertambah bahagia lagi saat Mario menyatakan perasaannya padaku, karena sudah sejak awal aku memang menyukainya, bahkan suka itu perlahan-lahan berubah menjadi cinta. (end)

Kamis, 09 Mei 2013

Ambar dari Gang Mawar

Cerpen: Akhtiar Jannati Arini

Seperti perempuan lainnya, ketika jodohnya telah tiba, perempuan bernama Ambar yang tinggal di Gang Mawar itu menikahlah. Segera tersiar kabar: Ambar dan Umar menikah di Gang Mawar. Setahun kemudian tersiar kabar di Gang Mawar: Ambar mengandung.

Kepada Umar, Ambar berkata. "Kalau kendunganku membesar, bos supermarket tempatku bekerja pasti memecatku, sebab itulah peraturan di sana."

"Tapi apa. Aku bisa kerja lembur terus. Aku bisa ambil upahan apa saja pada hari Minggu. Malam aku bisa ngojek."

"Tapi, aku ingin, hari Minggu Kakak ada di rumah bersamaku dan bersama anak kita," kata Ambar seolah-olah anaknya sudah lahir. "Kakak juga jangan ngojek malam hari. Pikirkan kesehatan Kakak."

"Kalau aku tidak lembur dan tidak ngojek sampai malam, dari mana kita bisa menabung sedikit demi sedikit untuk biaya sekolah anak kita?" Ambar terdim. Umar membelainya dengan belaian yang meneduhkan.

Malam berikutnya, Ambar bertanya kepada Umar. "Kak, kue buatanku enak tidak?"

"Sangat! Mengapaa? Aku lupa memuji, ya? Maaf ya..."

"Nah, kalau enak, mengapa kita tidak jualan kue saja? Aku titipkan di warung-warung dan di pasar, Kakak bawa ke tempat Kakak kerja, Kakak tawarkan kalau-kalau ada orang hajatan yang mau pesan kue buatanku.."

Umar membelai kepala Ambar. "Istriku, istri nomor satu di dunia." Ambar merasa melambung ke langit lapisan tertinggi oleh pujian Umar.

Umar mencari pinjaman dari sana-sini untuk modal awal usaha. Lamban laun, mulai banyak orang yang memesan kue buatan Ambar. Umar tambah bersemangat mempromosikan kue buatan Ambar. "Tapi janji, ya... Ambar, kamu harus janji, mengasuh anak lebih penting daripada menjual kue sebanyak-banyaknya!"

"Oke, Bos! Siap laksanakan!"

Ketika anak Ambar lahir, Ambar memenuhi janjinya. Umar bersyukur sekali, anaknya terurus dengan baik. Tentu saja ia sangat bersyukur mengingat banyak anak orang lain yang tidak diasuh dengan baik oleh ibunya sendiri gara-gara sang ibu sibuk oleh pekerjaan atau usaha lain.

Tak lama kemudian, perempuan bernama Ambar itu mengandung lagi lalu melahirkan lagi, mengandung lalu melahirkan lagi, mengandung lalu melahirkan lagi. Dua anak perempuan dan dua anak laki-laki diamanahkan Allah baginya dan bagi suaminya. Umar menamai mereka: Jamilah, Hasan, Robiah, dan Sofyan.

Adapun lelaki bernama Umar itu, tiada henti-hentinya bersyuukur. Semua anaknya disusui sendiri oleh Ambar dengan tuntas. Ambar sendiri yang mengantar dan menjemput anak-anak mungil itu sekolah dan mengaji. Ambar bersusah payah mejalankan usaha kuenya, tetapi tetap memegang teguh janjinya: mengasuh anak-anak lebih penting daripada menjual kue sebanyak-banyaknnya.

Kalau Umar tidak bekerja sebagai buruh bangunan, ia memilih membantu Ambar membuat kue dan menjualnya daripada ngojek agar ia bisa lebih banyak bersama Ambar dan anak-anaknya.

Lama kelamaan, berkat promosi yang gencar dilakukan Umar, pesanan bertambah banyak, Ambar mulai merasa kesulitan menjalankan usaha itu sendiri. "Bagaimana kalau kita buat gerobak kue. Kita jualan di pinggir jalan . Mudah-mudahan laris dan lama-lama kita bisa sewa kios kecil di pinggir jalan...."

Umar terdiam. Ia berpikir. "Nanti dulu. Anak-anak kita masih kecil-kecil. Kalau kamu sibuk jualan di pinggir jalan, anak-anak kita bagaimana? Justru ketika mereka masih kecil-kecil, mereka butuh perhatian penuh dan didikan yang baik dari kamu sebagai ibunya. Mengapa tidak seperti selama ini saja. Kita buat kue di rumah. Orang-orang pesan, mengambi sendiri di rumah kita atau kita upah orang lain untuk mengantarnya?"
"Begini, Kak.... Maksudku, bagaimana kalau Kakak yang jualan di pinggir jalan.... Aku tetap di rumah, buat kue dan mengasuh anak-anak.... Yakinlah, Kak.... Anak-anak kita tetap terurus dengan baik semampuku."

Umar terdiam lebih lama. Berpikir lembih lama. "Godaan" untuk dapat uang lebih banyak menari-nari dalam angannya. Namun, bersamaan dengan itu, ia merasa harga dirinya sebagai lelaki dan sebagai kepala rumah tangga mulai terusik.

"Begini.... Sejak awal, ini usaha kamu,'kan? Aku senang. Aku dukung. Tapi, ingat, niat awal kamu, dan yang aku bayangkan selama ini, kamu melakukan itu untuk membantu suami menambah penghasilan keluarga. Bukan untuk mengambil alih tanggung jawabku mencari nafkah. Kalau kamu suruh aku yang jualan di pinggir jalan, berarti kamu suruh aku berhenti jadi buruh bangunan! Artinya apa? Artinya, sejak saat itu aku tidak lagi cari nafkah sendiri untuk kamu dan anak-aank! Artinya apa? Artinya, aku tergantung padamu paadahal aku suamimu!"

"Kata siapa, Kak? Ini usaha kita bersama. Kakak yang cari modal awalnya, 'kan? Kakak yang promosikan, Kakak bantu aku antar kue ke pembeli yang memesan. Kakak juga bantu aku buat kue kalau Kakak sedang tidak kerja."

Umar diam seribu bahasa. Ambar akhirnya berkata. "Sekali lagi aku mohon maaf, Kak! Tolong lupakan saja permintaanku tadi."

"Ya, sudahlah! Aku maafkan.... Aku mau pergi dulu, takziah ke rumah kenalan di kampung sebelah." Ambar mengantar Umar sampai ke pintu dengan air mata berurai. Ia menyesal telah membuat hati suaminya terluka.

Baru beberapa langkah Umar berlalu, Ustadzah Arni mengetuk pintu. Ia hendak memesan kue untuk konsumsi jemaah yang akan menghadiri peringatan Tahun Baru Hijriyah. Ambar buru-buru menghapus air matanya, tetapi bekas menagis masih terlihat oleh Ustadzah Arni.

Karena Ustadzah Arni terkenal dapat dipercaya menjaga rahasia dan sering dapat memberikan solusi atas masalah rumah tangga, Ambar curhat padanya. Lagi pula, Ustadzah Arni adalah bibinya sendiri. "Aturlah agar kita bertiga dengan suamimu dapat bicara dari hati ke hati. Insya Allah ada jalan keluarnya."

Dalam pertemuan itu, Ustadzah Arni berkata, "Kau lelaki yang baik, Umar. Kau tidak mau makan keringat istrimu. Aku kagum padamu. Sebelumnya maafkan aku kalau aku kau anggap mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi, aku ini bibi kalian. Aku ingin yang terbaik untuk kalian. Keputusanmu Umar, kuakui, sangat baik dan sangat tepat, Begitulah seharusnya lelaki. Ambar sangat beruntung,menjadi istrimu. Tapi, maukah kalian kutawarkan sesuatu yang lebih baik lagi?"

Muqoddimah yang disampaikan Ustadzah Arni mampu mencairkan egoisme Umar sebagai lelaki. Ia mengangguk.

"Usaha kue kalian harus dipertahankan dan harus dikembangkan. Melihat perkembangannya selama ini, usaha kue kecil-kecilan ini dapat bertahan lama bahkan dapat lebh maju asal kalian lebih serius dalam penjualan. Memancing minat beli dengan memajang kue di gerobak di pinggir jalan ada baiknya dilakukan selain menunggu pesanan datang ke rumah kalian."

"Maaf, Bibi sudah tahu penirianku...," Umar menyela.

"Karena itu, kutawarkan padamu begini. Kau beli usaha kue itu dari Ambar. Suruh Ambar hitung berapa nilai usahanya sekarang. Belilah usaha itu supaya jadi milikmu. Terserah kalian mau kontan atau dicicil. Sesuadah itu, suruh Ambar bekerja padamu sebagai pembuat kue. Kau gaji dia sebagai pembuat kue. Maka, seluruh keuntungan akan merupakan hasil usahamu sebagai suami. Maka, kau tak perlu lagi merasa tergantung pada istrimu sebab nyatanya kaulah yang mengelola dan menentukan, kau bos-nya...."

Wajah Umar cerah. Itu gagasan yang "aneh" tapi cemerlang. Pantas saja banyak orang yang meminta bantuan kepada bibinya itu untuk menyelesaikan masalah tertentu. Namun, wajah cerah Umar segera meredup. "Aku tak punya uang...."

"Kau boleh pinjam uangku. Aku sudah minta izin suamiku untuk meminjamkan uang kepadamu. Tapi harus ada surat perjanjian bahwa utangmu akan kau lunasi.... Kita buat perjanji itu di rumahku. undanglah Ketua Masjid sebagai saksi di pihakku, dan Ketua Seksi Peribadatan Masjid sabagai saksi di pihakmu. Jangan lupa undang Ketua RT untuk mengetahui perjanjian itu!"

Ambar tersenyum dalam hatinya. Gagasan agar Umar membeli usaha kuenya itu murni gagasan Ustadzah Arni, sedangkan gagasan mengundang Ketua Masjid dan Ketua Seksi Peribadatan Masjid sebagai saksi serta Ketua RT sebagai pejabat yang mengetahui perjanjian itu adalah gagasan Ambar. Tujuannya agar tanpa harus cerita dan menjelaskan dengan siapa-siapa, berita akan tersebar dengan cepat dari mulut ketiga orang itu bahwa: usaha kue itu telah "sah" berpindah tangan menjadi milik umar karena ia telah membelinya meskipun membeli dengan istrinya sendiri, bahwa bukan Ambar yang "berkuasa" atas usaha itu, melainkan Umar.

Begitulah sebagian kisah dari perempuan bernama Ambar, yang tinggal dan menikah di Gang Mawar, hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya di Gang Mawar.

Dari mana aku tahu kisah itu?Aku tahu kisah itu sejak lama sebab aku juga tinggal di Gang Mawar. Untuk apa kukisahkan kepadamu? Untuk membanggakan perempuan bernama Ambar itu: perempuan yang menguras tenaga dan pikirannya untuk membantu menambah penghasilan keluarga, tetapi tetap mengasuh dan mendidik anak-anaknya: perempuan yang ikhlas melakukan yang terbaik agar dapat mengumpulkan rezeki untuk biaya pendidikan anak-anaknya tanpa membuat suaminya merasa kehilangan harga diri.

Mengapa kubanggakan ia, perempuan bernama Ambar itu? Sebab sejak berada dalam rahimnya, aku telah merasakan kasih sayangnya yang total! Sebab sejak keluar dari rahimnya, aku merasakan usahanya yang gigih agar aku dapat mengenal Allah dan selalu merasa dalam pengawasan Allah!.

Kenalkan namaku Jamilah bin Umar: Adik-adikku ada tiga: Hasan bin Umar, Robiah bn Umar, dan Sofyan bin Umar. Ya! Ibuku Ambar, bapaku Umar, kami tinggal di Gang Mawar. (*)

Citra Budaya

Sematera Ekspres, Minggu, 31 Maret 2013

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Iwan Lemabang

LEMABANG 2008

Minggu, 03 Februari 2013

Tiga Malam Aku Mencarimu

Cerpen: Gegge Mappangewa

Dua Malam yang Lalu....
Kutelusuri Makasar di aantara gelapnya malam. Berjalan sendiri, meski aku tak lain hanyalah seorang pendatang baru di kota ini. Kota yag terkadang orang menilainya sebagai kota yang rawan tindakan kriminalitas. Aku tak ingin penilaian orang terhadap kota ini menjadi penghalang bagiku untuk mencarimu. Yah, aku mencarimu Kak Ewa. Mencarimu di antara harapan yang sungguh aku tak tahu sebesar apa.

Terkadang aku membangun harapan itu sebiru dan setinggi langit, namun aku sering terjaga jika harapan itu hanyalah mimpi. Bukankah kepergianmu meninggalkan Magelang, karena aku yang lebih memilih berlari ke pelukan Shei saat aku berada di persimpangan hati antara kau dan Shei. "Kak Ewa, jangan pinta aku memilih! Mundurlah dari kehidupanku demi kebahagiaanku dengan Shei!" Kamu membisu saat itu. Menatapku pun tidak!

"Wa, aku tahu kau terluka. Tapi bagaimana pun Shei begitu banyak membantuku. Membantu kehidupan aku dan adik-adikku sejak papaku meninggal."

Aku ingin sekali mendengar suaramu saat itu. Tapi sedikit pun bibir merahmu tak bergerak. Hanya sebuah langkah balik kanan dariku dan berlalu tanpa pernah menoleh sekali pun. Tapi di hatiku, kamu tidak pernah pergi. Kamu selalu ada di setiap keberadaanku. Di mana pun! Setelah kematian Papa, tiba-tiba saja Shei menyusul dan sungguh aku menjadi takut untuk memiliki seseorang. Selalu saja harus berakhir dengan duka hati. Itu yang membuatku datang mencari di sini. Mencoba mengais kembali serpihan hatimu yang pernah aku retakan. Mungkinkah?

"Losari, Daeng!" ucapku pada seorang tukang becak. Dan dengan negoisasi harga yang sudah pas aku naik dan dibawanya pergi. Dari tenda ke tenda aku mencarimu. Mencari wajah polosmu di antara para musisi jalanan. Tapi kau tetap tak ada. Padahal, seseorang pernah cerita jika kamu hampir tiap malam mengamen di sepanjang Losari. Lalu kemana lagi aku harus mencarimu?

"Kamu cari Ewa? Dulu dia sering ngamen di sini," tutur seorang pengamen yang sedikit membuatku menemui titik terang.

Aku mengangguk. Aku sedikit takut melihat penampilan cowok gondrong ini.

"Kamu siapa?"

"Aku adiknya Ewa," bohongku tanpa sedikit kegugupan.

"Nama?" tanyanya.

"Namaku Tiara!." Kulihat dia tersentak. Dia menatapku tajam. Dan kali ini aku gugup. Tatapannya seolah ingin menerkamku.

"Ewa telah mati!" ucapnya santai dan aku bisa membaca jika itu adalah sebuah kebohongan. Tapi kemudian dia beranjak pergi tanpa memperdulikan aku yang mengejarnya dengan seribu tanyan.

Kemarin Malam....
Losari kembali menjadi target pencarianku. Paling tidak, cowok gondrong itu akan kumintai keterangan. Aku tak peduli, apa yang harus aku dengar darinya tentangmu. Tapi hingga Losari sepi karena malam semakin beranjak, cowok gondrong itu tetap tak ada. Langkah gontaiku kuayun pulang. Menelusuri ptrotoar pantai Losari sambil mencari taksi yang akan membawaku pulang.

"Hei!"

Tiba-tiba cowok gondrong itu datang menghadang langkahku dan menyapaku dengan ramah.

"Kamu mau ketemu Ewa?"

Sebelum aku menjawab, cowok itu telah menyekap mulutku dan membawaku ke dalam mobilnya. Aku meronta ingin teriak, tapi setelah masuk di mobil, sebuah tissue yang berbau obat bius telah dia sekapkan ke hidungku. Hingga kemudian, aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Semua telah gelap!

Malam Ini....
Aku berada di kamar ini dari kemarin malam. Cowok gondrong itu telah membiusku dan mengurungku di sini. Aku baru terjaga setelah pagi. Itu pun dengan pintu kamar yang terkunci. Hingga malam ini. Hanya sebuah perlengkapan mandi yang belum pernah terpakai, kini tersimpan di sudut tempat tidurku. Juga mie instant dan roti tawar serta aneka soft drink yang tersimpan di lemari es.

Sudah jam tujuh malam. Sampai kapan aku harus terkurung di sini. Dan aku tiba-tiba menemukan akal untuk mencungkil pintu saat mataku tertuju pada sebuh obeng. Peluh bercucuran menemaniku mencungkil pintu kamar. Namun saat pintu berhasil terbuka. Sebuah deruh mesin mobil yang masuk pekarangan rumah terdengar olehku. Cepat aku menyelinap di antara ruang tamu, lalu bersembunyi di belakang kursi.

Napasku tersengal. Dari celah bawah kursi jelas sekali aku kulihat ada enam pasang kaki yang memasuki rumah. Satu di antaranya bahhkan memiliih duduk di kursi yang kupakai bersembunyi di belakangnya.

"Kamu tunggu aja di situ dulu!" ucap salah seorang di antara mereka lalu berjalan ke arah kamar tempatku disekap. Dadaku semakin berdebar tak karuan. Bagaimana mungkin aku bisa lari jika seseorang malah duduk di dekat tempat persembunyianku. Dan hanya selang beberapa menit, kembali aku terpikir untuk meraih keramik di sampingku lalu memukulkan dari belakang ke kepala orang yang kini duduk di kursi tempatku bersembunyi.

"Cewek itu melarikan diri," ucap seseorang dari dalam dan terdengar panik. Dan gerakanku untuk menyentuh keramik dan memukulkannya, terhenti. Meski sesaat kemudian, dari belakang, keramik itu kupukulka juga ke kepala orang yang duduk santai di ruang tamu.

Dan cowok yang tadi duduk sendiri di kursi itu tersungkur ke lantai. Dan itu kugunakan sebagai kesempatan untuk berlari. Aku berlari dan terus berlari di antara gelapnya malam. Meski aku tak tahu aku berada di mana. Hanya lalu lalang kendaraan yang terkadang membuatku bingung harus lari ke mana. Dan sayang, satu dari kendaraan yang lalu lalang itu menghempaskan tubuhku ke trotoar. Mengantarku ke dalam pekannya malam.

Tapi sebelum pekat itu sempurna. Antara sadar dan tidak, cowok gondrong kemarin malam yang ternyata mengejarku dari belakang, kini memapah tubuhku entah ke mana. Aku tak tahu lagi! Aku seperti terbius di antara rasa sakit di bagian tulang punggungku, akibat tertabrak mobil tadi.

"Tiara!"

Seolah dalam mimpi. Ada suara yang memanggil namaku. Dan aku tahu sekali jika itu adalah suaramu, Ewa! Mungkinkah kamu datang untuk menyelamatkanku? Atau kamu akan datang untuk menjemputku untuk menemaniku ke alam abadi, jika memang kamu telah meninggal.

"Tiara, aku Ewa!"

Kubuka mataku perlahan. Dan kudapatkan diriku dalam ruangan yang serba putih. Dari jam yang tergantung di dinding, kulihat jarumnya menunjukkan ke angka dua.

"Jam dua malam?" desisku.

"Ya, beberapa jam yang lalu kamu tertabrak mobil."

"Lalu kenapa dengan kepalamu?" tanyaku melihat kepalanya terbalut perban.

"Bukankah kamu yang memukulku tadi dengan keramik?" ucapnya dengan sebuah senyum manis.

Kutatap mata yang selama ini hilang dariku. Mata Ewa! Masihkah mungkin untuk kumiliki.

"Siapa yang membawaku ke sini?"

"Arbi," jawab Ewa sambil menggenggam tanganku.

"Siapa dia? Cowok gondrong itu?" kurasakan kebencian menyelinap ke balik dadaku yang sesak oleh rasa rindu untuk memeluk Ewa.

"Dia temanku saat ngamen dulu. Tapi menjadi seteruku kemudian karena seseorang pemilik cafe lebih memilih aku untuk main band di cafenya. Dia menculikmu dan meminta tebusan dariku."

"Kamu memberika tebusan itu?"

"Apa pun kuberikan demi kamu, Tiara. Kuharap jangan pernah pergi dariku lagi."

Malam ini pencarianku berakhir, dan sungguh aku tak pernah lagi mau mencarimu. Aku akan selalu mengikuti langkahmu. Kemana pun! (*)