Kamis, 21 Februari 2013

Duplikat Ampera Sebelah Kiri


Ikon: Tampak Jembatan Ampera yang berusia puluhan tahun masih menjadi akses utama penghubung Seberang Ulu dan Ilir

DED Rp 5 M, Sudah Diajukan ke Pusat



PALEMBANG -- Mendesaknya duplikasi Jembatan Ampera, ikon Palembang yang berusia hampir setengah abad disadari para wakil rakyat di DPRD Sumsel. Ketua Komisi IV DPRD Sumsel, Edwar Jaya menilai, duplikasi ini sudah mendesak melihat volume kendaraan yang melalui Ampera sudah begitu padat.

"Akses penyeberangan dari Seberang Ilir ke Seberang Ulu atau sebaliknya bertumpu pada Jembatan Ampera ini. Jangan sampai terjadi apa-apa, butuh duplikasi segera," katanya.

Makanya, kata Edwar, pihaknya telah mengajukan detail engineering design (DED) kepada Menko Perekonimian, Kementerian PU dan DPR RI. "Kami akan terus mengawal usulan ke pusat ini dan ditargetkan 2014 dapat direalisasikan dengan adanya bantuan APBN," imbuhnya.

Berdasarkan DED yang diajukan, lanjut Edwar, duplikalsi akan dibangun pada sisi sebelah kiri Jembatan Ampera dari arah Bundaran Air Mancur menuju ke kawasan 7 Ulu.

"Tidak dirancang pada sebelah kanan karena akan menutupi BKB," bebernya sembari mengatakan anggaran DED sekitar Rp 5 miliar dari APBD Sumsel.

Pentingan duplikasi Ampera, ucap Edwar, juga untuk mengantisipasi beban yang bertumpu pada jembatan pampasan perang Jepang ini akibat dri pembangunan jembatan layang (fly ovver) simpang Jakabaring (Ampera-Jakabaring). "Makanya harus segera direalisasikan agar bebannya tidak pada Jembatan Ampera semua," pungkasnya.

Kepala Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) Preservasi dan Pembangunaan Jalan dan Jembatan Metropolis Palembang Kementerian PU, Ir Aidil Fikri MT menyampaikan, duplikasi Jembatan Ampera penting segera dibangun. Tak hanya kerena lalu lintas yang melalui jembatan ini semakin padat, tapi juga faktor usia.

Selama ini, pihaknya agak kesulitan melakukan pemeiharaan dan prbaikan Jembatan Ampera secara maksimal karena ini satu-satunya akses terdekat untuk menyeberang dari seberang Ulu ke Ilir. "Kalau ada duplikat disebelahnya, Ampera bisa ditutup total saat pemeliharaan atau perbaikan," bebernya.

Menurut Aidil, kontruksi duplikat Ampera tidak perlu setinggi ikon Palembang sejak puluhan tahun itu. "Rendah saja, yang penting manfaatnya nyata," cetusnya. Ia malah mengusulkan kepada pemerintah daerah agar mengutamakan pembangunan duplikasi Ampera dibandingkan Misi III dengan memerlukan biaya jauh lebih besar.

"Musi III tidak mudah, dana yang dibutuhkan juga sangat besar sekitar Rp 8,5 triliun. Kalau duplikat Ampera, lahannya relatif siap dan dananya cukup kecil. Bisa jadi tidak sampai Rp 500 miliar," ungkapnya.

Dicontohkannya, duplikasi Jembatan Musi II sendiri hanya menelan anggaran Rp 260 miliar. Kdishubkominfo Sumsel, Musni Wijaya SSos MSi mengakui, duplikasi akan memberikan efek positif terhadap kelangsungan Jembatan Ampera. "Ide tersebut tentunya akan kami dukung, namun perlu dilakukan kajian lagi mengenai dampak yang ada," pungkasnya.

Terpisah Wali Kota Palembang, H Eddy Santana Putra menilai, pembangunan duplikasi Jembatan Ampera belum terlalu diperlukan dan mendesak. Apalagi, kondisi Jl Sudirman yang terkonekki langsung dengan Jembatan Ampera sudah sangat padat.

"Kalau dilakukan duplikaasi, tapi belum ada jalan alternatif seperti Musi III, maka akan memicu kemacetan yang lebih parah di area sekitar pembangunan dan aktivitas warga akan terganggu," ucapnya.

Menurut Eddy, dupliikasi Jembatan Ampera membutuhkan perencanaan matang karena lokasinya di sekitarnya sangat padat. Banyak bangunan tua yaang bersejarah serta pemukiman padat penduduk sehingga kemungkinan butuh biaya sangat besar untuk membebaskan lahan dan lainnya. "Yang mendesak itu, Musi III, baru Musi II, Musi IV, Musi V dan jembatan Musi lainnya," ujarnya seraya mengatakan walaupun ia harus dibangun di kiri dan di kanan. (mik/rip/yun/ce2)

Sumatera Ekspres, Kamis, 21 Februari 2013

Minggu, 03 Februari 2013

Tiga Malam Aku Mencarimu

Cerpen: Gegge Mappangewa

Dua Malam yang Lalu....
Kutelusuri Makasar di aantara gelapnya malam. Berjalan sendiri, meski aku tak lain hanyalah seorang pendatang baru di kota ini. Kota yag terkadang orang menilainya sebagai kota yang rawan tindakan kriminalitas. Aku tak ingin penilaian orang terhadap kota ini menjadi penghalang bagiku untuk mencarimu. Yah, aku mencarimu Kak Ewa. Mencarimu di antara harapan yang sungguh aku tak tahu sebesar apa.

Terkadang aku membangun harapan itu sebiru dan setinggi langit, namun aku sering terjaga jika harapan itu hanyalah mimpi. Bukankah kepergianmu meninggalkan Magelang, karena aku yang lebih memilih berlari ke pelukan Shei saat aku berada di persimpangan hati antara kau dan Shei. "Kak Ewa, jangan pinta aku memilih! Mundurlah dari kehidupanku demi kebahagiaanku dengan Shei!" Kamu membisu saat itu. Menatapku pun tidak!

"Wa, aku tahu kau terluka. Tapi bagaimana pun Shei begitu banyak membantuku. Membantu kehidupan aku dan adik-adikku sejak papaku meninggal."

Aku ingin sekali mendengar suaramu saat itu. Tapi sedikit pun bibir merahmu tak bergerak. Hanya sebuah langkah balik kanan dariku dan berlalu tanpa pernah menoleh sekali pun. Tapi di hatiku, kamu tidak pernah pergi. Kamu selalu ada di setiap keberadaanku. Di mana pun! Setelah kematian Papa, tiba-tiba saja Shei menyusul dan sungguh aku menjadi takut untuk memiliki seseorang. Selalu saja harus berakhir dengan duka hati. Itu yang membuatku datang mencari di sini. Mencoba mengais kembali serpihan hatimu yang pernah aku retakan. Mungkinkah?

"Losari, Daeng!" ucapku pada seorang tukang becak. Dan dengan negoisasi harga yang sudah pas aku naik dan dibawanya pergi. Dari tenda ke tenda aku mencarimu. Mencari wajah polosmu di antara para musisi jalanan. Tapi kau tetap tak ada. Padahal, seseorang pernah cerita jika kamu hampir tiap malam mengamen di sepanjang Losari. Lalu kemana lagi aku harus mencarimu?

"Kamu cari Ewa? Dulu dia sering ngamen di sini," tutur seorang pengamen yang sedikit membuatku menemui titik terang.

Aku mengangguk. Aku sedikit takut melihat penampilan cowok gondrong ini.

"Kamu siapa?"

"Aku adiknya Ewa," bohongku tanpa sedikit kegugupan.

"Nama?" tanyanya.

"Namaku Tiara!." Kulihat dia tersentak. Dia menatapku tajam. Dan kali ini aku gugup. Tatapannya seolah ingin menerkamku.

"Ewa telah mati!" ucapnya santai dan aku bisa membaca jika itu adalah sebuah kebohongan. Tapi kemudian dia beranjak pergi tanpa memperdulikan aku yang mengejarnya dengan seribu tanyan.

Kemarin Malam....
Losari kembali menjadi target pencarianku. Paling tidak, cowok gondrong itu akan kumintai keterangan. Aku tak peduli, apa yang harus aku dengar darinya tentangmu. Tapi hingga Losari sepi karena malam semakin beranjak, cowok gondrong itu tetap tak ada. Langkah gontaiku kuayun pulang. Menelusuri ptrotoar pantai Losari sambil mencari taksi yang akan membawaku pulang.

"Hei!"

Tiba-tiba cowok gondrong itu datang menghadang langkahku dan menyapaku dengan ramah.

"Kamu mau ketemu Ewa?"

Sebelum aku menjawab, cowok itu telah menyekap mulutku dan membawaku ke dalam mobilnya. Aku meronta ingin teriak, tapi setelah masuk di mobil, sebuah tissue yang berbau obat bius telah dia sekapkan ke hidungku. Hingga kemudian, aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Semua telah gelap!

Malam Ini....
Aku berada di kamar ini dari kemarin malam. Cowok gondrong itu telah membiusku dan mengurungku di sini. Aku baru terjaga setelah pagi. Itu pun dengan pintu kamar yang terkunci. Hingga malam ini. Hanya sebuah perlengkapan mandi yang belum pernah terpakai, kini tersimpan di sudut tempat tidurku. Juga mie instant dan roti tawar serta aneka soft drink yang tersimpan di lemari es.

Sudah jam tujuh malam. Sampai kapan aku harus terkurung di sini. Dan aku tiba-tiba menemukan akal untuk mencungkil pintu saat mataku tertuju pada sebuh obeng. Peluh bercucuran menemaniku mencungkil pintu kamar. Namun saat pintu berhasil terbuka. Sebuah deruh mesin mobil yang masuk pekarangan rumah terdengar olehku. Cepat aku menyelinap di antara ruang tamu, lalu bersembunyi di belakang kursi.

Napasku tersengal. Dari celah bawah kursi jelas sekali aku kulihat ada enam pasang kaki yang memasuki rumah. Satu di antaranya bahhkan memiliih duduk di kursi yang kupakai bersembunyi di belakangnya.

"Kamu tunggu aja di situ dulu!" ucap salah seorang di antara mereka lalu berjalan ke arah kamar tempatku disekap. Dadaku semakin berdebar tak karuan. Bagaimana mungkin aku bisa lari jika seseorang malah duduk di dekat tempat persembunyianku. Dan hanya selang beberapa menit, kembali aku terpikir untuk meraih keramik di sampingku lalu memukulkan dari belakang ke kepala orang yang kini duduk di kursi tempatku bersembunyi.

"Cewek itu melarikan diri," ucap seseorang dari dalam dan terdengar panik. Dan gerakanku untuk menyentuh keramik dan memukulkannya, terhenti. Meski sesaat kemudian, dari belakang, keramik itu kupukulka juga ke kepala orang yang duduk santai di ruang tamu.

Dan cowok yang tadi duduk sendiri di kursi itu tersungkur ke lantai. Dan itu kugunakan sebagai kesempatan untuk berlari. Aku berlari dan terus berlari di antara gelapnya malam. Meski aku tak tahu aku berada di mana. Hanya lalu lalang kendaraan yang terkadang membuatku bingung harus lari ke mana. Dan sayang, satu dari kendaraan yang lalu lalang itu menghempaskan tubuhku ke trotoar. Mengantarku ke dalam pekannya malam.

Tapi sebelum pekat itu sempurna. Antara sadar dan tidak, cowok gondrong kemarin malam yang ternyata mengejarku dari belakang, kini memapah tubuhku entah ke mana. Aku tak tahu lagi! Aku seperti terbius di antara rasa sakit di bagian tulang punggungku, akibat tertabrak mobil tadi.

"Tiara!"

Seolah dalam mimpi. Ada suara yang memanggil namaku. Dan aku tahu sekali jika itu adalah suaramu, Ewa! Mungkinkah kamu datang untuk menyelamatkanku? Atau kamu akan datang untuk menjemputku untuk menemaniku ke alam abadi, jika memang kamu telah meninggal.

"Tiara, aku Ewa!"

Kubuka mataku perlahan. Dan kudapatkan diriku dalam ruangan yang serba putih. Dari jam yang tergantung di dinding, kulihat jarumnya menunjukkan ke angka dua.

"Jam dua malam?" desisku.

"Ya, beberapa jam yang lalu kamu tertabrak mobil."

"Lalu kenapa dengan kepalamu?" tanyaku melihat kepalanya terbalut perban.

"Bukankah kamu yang memukulku tadi dengan keramik?" ucapnya dengan sebuah senyum manis.

Kutatap mata yang selama ini hilang dariku. Mata Ewa! Masihkah mungkin untuk kumiliki.

"Siapa yang membawaku ke sini?"

"Arbi," jawab Ewa sambil menggenggam tanganku.

"Siapa dia? Cowok gondrong itu?" kurasakan kebencian menyelinap ke balik dadaku yang sesak oleh rasa rindu untuk memeluk Ewa.

"Dia temanku saat ngamen dulu. Tapi menjadi seteruku kemudian karena seseorang pemilik cafe lebih memilih aku untuk main band di cafenya. Dia menculikmu dan meminta tebusan dariku."

"Kamu memberika tebusan itu?"

"Apa pun kuberikan demi kamu, Tiara. Kuharap jangan pernah pergi dariku lagi."

Malam ini pencarianku berakhir, dan sungguh aku tak pernah lagi mau mencarimu. Aku akan selalu mengikuti langkahmu. Kemana pun! (*)

Jumat, 01 Februari 2013

River Side Resto Terapung di Tepi Musi

River Side Resto

Restoran ini bukan hanya terapung, tapi juga menyediakan kapal motor yang bisa disulap menjadi tempat makan prasmanan. Lengkap dengan sebuah dermaga kecil yang akan mengantar pengunjungnya berwisata air di sekitar Musi.

Rasanya tidak sempurna jika jalan-jalan ke Palembang, tanpa mampir ke restoran terapung di tepi Sungai Musi ini. Ya, River Side namanya. Letaknya berada condong ke bibir sungai ternama itu dan tidak jauh dari Benteng Kuto Besak. Panoramanya, sungguh luar biasa. Apalagi restoran ini berada tidak jauh dari jembatan Ampera yang mempesona dengan lampu-lampunya termasuk dari kapal-kapal yang berada di sekitarnya ketika malam hari. Sebuah pemandangan yang menakjubkan dan menambah selera makan.

Restoran ini, kata Eddy Boy, Manager River Side telah beroperasi sejak Maret 2008. Ketika itu, bertepatan dengan tahun pencanangan "Visit Musi". River Side seakan muncul sebagai representasi tempat kuliner khas Palembang sesungguhnya dan berada dekat dengan ikon kota tersebut. Akhirnya, River Side kerap menjadi referensi dan persinggahan terakhir dari tur bila ada agen wisataa yang membawa para pelancongnya.

River Side bukan hanya menjual suasana. Fasilitasnya juga cukup lengkap. Kapasitasnya bisa mencapai 500 orang yang dibagi dalam beberapa ruangan yang diberi nama-nama ikan. Ruang pertama, misalnya, bernama Betutu atau kerap disebut orang Palembang sebagai “ikan malas”. Kemudian ada Ruang Seruang, dan ruang VIP bernama Ruang Betok.

Ruang Betok ini berkapasitas 75 orang dengan fasilita full AC, dan sound system. Kesannya eksklusif dan mengutamakan privasi. Sedangkan Ruang Betutu berada di lantai dua beranda restoran. Tempat ini berbatasan langsung dengan bibir sungai alias dirancang terapung. Ruang ini berkapasitas 200 orang dan menjadi tempat live music digelar. Di lantai dua ini, pengunjung juga bisa menemukan Ruang Seluang. Berkapasitas 250 orang di mana para pengunjung bisa bersantap sambil menikmati pemandangan Sungai Musi yang romantis.

Di ruang terakhir adalah dermaga. Tempat ini berkapasitas 250 orang. "Ruang Betutu dan Ruang Seruang lebih berkesan formal. Kalau mau bersantai, pengunjung bisa mengambil tempat di teras. Karena didesain terbuka dan santai," tambah Eddy.

Selain menjadi tempat makan favorit, River Side kerap dijadikan tempat menggelar perayaan ulang tahun, pesta pernikahan, atau acara-acara komunitas dan pemerintahan. "Restoran ini cocok hanya makan, acara formal, atau bersenang-senang dan santai," ujar Eddy.

Mungkin ada pengunjung yang khawatir soal sisi keamanan karena restoran ini terapung. Soal itu, jangan khawatir, sebab, kata Eddy, fondasi dan konstruksi restoran ini terbuat dari besi baja yang kuat. Meski baja-baja penyangga itu tidak dicor, tapi ditancapkan. Sebab, ada ketentuan dari Pemerintah Daerah Sumatera Selatan tidak boleh ada pengecoran di sepanjang bibir Sungai Musi.

River Side Resto

Dermaga Kecil



Yang menarik dari restoran ini adalah keberadaan centre point alias dermaga kecil agar perahu pengunjung yang ingin ke restoran dapat langsung merapat. Artinya, akses ke restoran tidak selalu harus dari jalan darat. Centre point itu dibuat lantaran kadang pengunjung yang sedang berwisata mengitari Sungai Musi, ingin segera makan.

Kunjungan itu biasanya datang dari wisatawan yang mampir ke Pulau Kemarau, pulau yang berada di tengah Sungai Musi. Pulau itu merupakan salah satu objek wisata terkenal di Palembang. Sebab, di sana dapat ditemui orang-orang keturunan lengkap dengan klenteng, prasasti kuno, dan tanaman bernama "pohon cinta".

Wisata Air


Untuk menuju ke Pulau Kemarau dapat ditempuh dengan menggunakan kapal motor berkapasitas 60-80 orang dengan jarak tempuh selama 2,5 jam. River Side menyediakan kapal motor tersebut. Jika ingin makan sambil berwisata, setiap pengunjungi bisa menggunakan kapal tersebut.

Soal tarif seharga 3,5 juta rupiah untuk rombongan. Kalau menggunakan kapal motor yang lebih kecil cukup 400 ribu rupiah. Mahal? Sebentar, harga itu sudah termasuk tour guide, solo organ, ruangan ber-AC (kapal motor besar), dan smooking area. noverta salyadi dan frans ekodhanto.

Ada Menu Ikan Malas



Mahal karena ikannya sudah sulit ditemui.
Selain pemandangannya elok, yakni Jembatan Ampera dan Sungai Musi, River Side juga memiliki menu khas Palembang yang sesungguhnya. Salah satunya yang favorit adalah Ekor Tenggiri Bakar. Ya, ekor ikan tenggriri yang beratnya sekitar satu kilogram itu dipotong kemudian dibentuk menyerupai kipas lalu dibakar dengan bumbu khusus. Sedangkan daging ikannya, biasanya dipisahkan untuk dinikmati dalam bentuk lain, yakni pempek dan sebagainya.

Kurang suka ikan? Anda juga bisa menikmati udang atau sotong segar yang ditangkap langsung dari Sungai Musi begitu ada yang memesan. Udang dan sotong itu bisa dimasak sesuai permintaan. Ada yang digoreng mentega atau khas bumbu Palembang, seperti Udang/Sotong Saos Kuto Besak. Menu ini segar dan mengundang selera. Cocok untuk mereka yang suka rasa manis pedas.

Ada pula kepiting yang langsung didatangkan dari Muara Sungsang. Kepiting ini rasanya sangat manis dan segar karena tinggal di hutan bakau yang berada di Muara Sungsang, muara yang berhubungan dengan Selat Bangka. Setiap menu dibanderol sesuai berat seafood yang akan diolah. Sebagai gambaran, Ikan Betutu atau Ikan Mala situ seharga 38 ribu rupiah per ons. Mahal? Bisa jadi ya, tapi Anda perlu tahu bahwa Betutu termasuk ikan yang sulit ditemui alias langka.

Sebagai hidangan penutup, Anda bisa memesan aneka buah lokal seperti potongan sawo, kesemek, papaya, duku, atau durian khas Palembang. Kalau ingin yang dingin-dingin bisa mencoba Es ala River Side yang terbuat dari campuran jeruk kunci dibelender bersama kulitnya. Rasanya asam, manis, dan menyegarkan. noverta salyadi dan frans ekodhanto.