Rabu, 06 Maret 2013

Ibuku Diserang 200 Jin

Oleh: Anggita Alfiani

Aku terkejut ketika dilakukan OSG ternyata tidak ada janin dalam perut ibu. Padahal jelas-jelas ibu hamil dan sebentar lagi akan melahirkan. Rupanya rahim ibu dimasuki jin jahat yang dikirim ke rumahku oleh seseorang yang dendam pada ayahku

* * * * * * * * * * * * * * *

Entah pantas atau tidak aku menceritakan kisah ini. Bisa dibilang ini adalah aib keluargaku. Bila pada akhirnya aku tulis kisah ini, hanya sebatas untuk sharing. Barangkali cerita ini dapat bermanfaat. Hmm.... peristiwa ini terjadi kurang lebih 10 tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu biuku sedang mengandung adikku yang pertama. Usianya sudah menginjak delapan bulan. Tapi kami belum tahu apa jenis kelamin bayi itu. Ayah dan ibu sengaja tidak memeriksakannya.

"Biar saja, biar jadi kejutan," ujar ayah. Namun belakangan ini ibu, kesehatan ibu berangsur menurun, ibu jadi lebih mudah sakit. Ayah mengira mungkin karena usia kandungan ibu semakin bertambah, jadi ibu lebih muddah capek atau sakit. Kami sekeluarga pun mengira seperti itu dan tidak berpikiran aneh-aneh.

Sudah seminggu sakit ibu tidak kunjung membaik. Padahal ayah sudah membawa ibu ke puskesmas tiga hari yang lalu. Namun, obat sepertinya sama sekali tidak bekerja. Kondisi ibu sudah sangat menurun. Wajahnya pucat, badannya terlihat lebih kurus dari biasanya. Dan ibu pun menjadi sering melamun.

Akhirnya ayah memutuskan membawa ibu ke rumah sakit ibu dan anak sekaligus ingin memeriksakan kesehatan kandungan ibu. Aku pun ikut serta ke rumah sakit karena kebetulan hari itu hari Sabtu dan sekolahku tengah libur.

Saat tiba di rumah sakit, untungnya antrian masih sepi, karena mungkin masih pagi. Setelah registrasi tak lama ibu pun dipanggil ke ruang periksa. Aku diizinkan untuk masuk. Lalu ibu dibaringkan dan diperiksa oleh dokter.

"Tidak ada masalah serius yang mengganggu kesehatan istri Bapak. Mungkin hanya kecapekan. Garis besarnya, istri Bapak sehat. Tapi saya akan memberi beberapa vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh si ibu dan bayi," ucap dokter.

Ayah dan aku cukup heran, kenapa ibu bisa dikatakan sehat padahal kondisi fisik ibu sudah memprihatikan.

"Baik dok. Oh iya, bisakah dokter memeriksa kandungan istri saya juga? Saya jadi penasaran dengan jenis kelaminnya. Selama ini kami tidak USG karena agar menjadi kejutan. Tapi sekarang saya tidak bisa menahn ras penasaran saya lagi," tutur ayahku.

"Baik Pak, saya akan memeriksa kandungan istri Bapak." Lalu dokter mengoleskan krim jel berwarna bening ke perut ibu, dan mengambil alat seperti ulekan, dan menggerakkan dengan mengitari perut ibu. Dari alat pengeras suara, terdengar pergerakan di dalam perut ibu. Aku takjub mendengarnya. Ternyata seperti itu bayi yang berada dalam kandungan. Lalu dokter menghubungkan ke sebuah monitor, yang menangkap gambar di dalam perut ibu. Namun saat monitor itu di nyalakan, dokter terkejut. "Astaga.... Pak, kenapa bisa begini? Bapak lihat di layarkan? Tidak ada gambar janin di dalam perut istri Bapak. Seharusnya alat ini menangkap janin itu," ujar dokter setengah panik.

Ayahku terkejut bukan main. Aku melihat di layar hanya gambar hitam putih, tidak ada gambar yang bisa disebut janin. Aku heran.

"Masya Allah, kenapa bisa begini? Lalu apa yang ada di dalam saya dok?!" tanya ibu mulai panik.

"Tenang Bu, kalau menurut saya, di dalam perut ibu terdapat janin. Tadi kita sudah mendengar pergerakannya kan? Dan jika saya memeriksa secara manual juga saya bisa merasakan pergerakan janin itu. Tapi mengapa tidak muncul di monitor itu yang saya bingungkan. Seperti ada yang menghalangi."

Aku tidak mengerti. Tapi ayah dan ibuku terlihat sangat cemas, ibu malah menagis terisak.

"Jujur saya tidak pernah mengalami kasus seperti ini Pak. Tapi saya pernah mendengar kasus sprti ini sebelumnya. Hmmm... saran saya lebih baik Bapak membawa istri Bapak kepada ustadz atau orang pintar. Kalau sudah seperti ini, ini diluar tenaga medis," ujar dokter itu.

"Apa maksud dokter saya terkena guna-guna?" tanya ibu sambil terisak.

"Lebih baik Ibu periksakan kepada yang mengerti. Mohon maaf Bu. Namun saya akan tetap memberi obat sebagai vitamin dan daya tahan ibu dan bayinya. Ibu dan Bapak mesti ingat, biar bagaimanapun janin itu masih ada. Jadi saya harap kalian tidak gegabah saat memeriksakan ini kepada orang pintar," pesan dokter.

"Baik dok, terima kasih," jawab Ayah. Lalu kami pulang dengan rasa gelisah. Aku bertanya kepada ayah, "Ayah, apa sih maksud dokter tadi?" Kenapa di perut ibu bisa tidak ada bayinya? ibu kenapa sih, Yah?" tanyaku penuh rasa heran.

"Ayah juga tidak mengerti. Kalau tahu akan seperti ini, pasti dari dulu sudah Ayah periksakan kandungan ibu. Naufal banyak berdoa saja ya Nak, supaya ibu dan adik kamu dilindungi Allah dan selamat sampai lahir ke dunia," sahut Ayah. Selama di jalan, ibu masih sesekali terlihat meneteskan airmata. Aku sangat kasian melihat ibuku. Lalu aku menggandeng tangan ibu. "Ibu sabar ya," ujarku.

"Iya nak. Doakan ibu dan adikmu ya," jawab Ibu dengan lembut.

Selepas shalat Maghrib, biasanya aku langsung nonton TV dan makan. Tapi aku ingat ibuku yang sedang terbaring di kamar, aku batalkan niatku untuk nonton TV dan makan. Aku terus mendoakan ibuku dan berdzikir sebisaku, yang telah diajarkan guru ngajiku. Di depanku, ayah sebagai imam membimbingku. Lalu ayah mengajakku membaca Surat Yasin, untuk mendoakan ibuku. Aku masih belum sempurna membaca Surat Yasin sehingga hanya mengikuti ayah pelan-pelan.

"Ketika kami tengah membaca Surat Yasin, tiba-tiba kami mendengar ibu menjerit dari dalam kamar. Sontak ayah terkejut da langsung lari ke kamar, begitupun aku. SSsampainya di kamar, aku melihat ibu masih menjerit-jerit.

"Astaghfirullah, ibu kenapa? Apa yang ibu rasakan? Istighfar Bu," ujar Ayah. Dia kemudian mengambil buku Yasin dan membacakannya di samping ibu yang masih saja menjerit-jerit. Sementara aku hanya bisa melihat kejadian itu tanpa tahu harus berbuat apa.

Lalu saat ayah membaca, ibu mulai menangis. Tangis terdengar sangat sendu. Aku tidak kuat melihat pemandangan itu. Akupun ikut menangis di samping ayah. Tangis ibu mulai reda setelah ayah selesai membacakan Surat Yasin itu.

"Ayah, Ibu kenapa? Kok Ayah ngajiin Ibu? Kenapa Ibu menangis, Yah?" tanya Ibuku heran.

Aku dan ayah terkejut. Berarti tdi Ibu tidak sadar kalau dia menjarit-jerit dan menangis. "Ibu tadi menjerit-jerit seperti orang kesurupan. Ibu juga menangis. Apa Ibu tidak sadar?" tanya ayah.

Di tanya seperti itu, Ibu justru kembali menangis. "Ayah, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Ibu? Kenapa semua ini tidak bisa ibu terima dengan logika? Kenapa Yah?" tanya Ibu.

Aku mengambilkan minum buat ibu lalu kembali duduk di tempat semula.

"Ayah juga tidak tahu Bu. Besok, Ayah akan panggil ustadz Rahmat. Mungkin saja dia bisa membantu kita. Sekarang Ibu istirahat saja ya? Ayah akan menemani Ibu di sini," ujar Ayahku. Dan malam itu aku tidur bersama ayah dan ibu.

Keesokan harinya aku pergi ke sekolah seperti biasa. Hari itu ayah tidak kerja, karena akan memeriksakan ibu pada ustadz Rahmat. Saat aku pulang sekolah, di rumah sudah ada ustadz Rahmat. Aku menyalami ayah dan ustadz, lalu segera menuju kamar ibu.

Saat menuju kamar, sayup-sayup aku mendengar perkataan ustadz Rahmat. "Coba Bapak ingat-ingat lagi, apa Bapak punya musuh? Nanti akan kita ketahui siapa kira-kira yang telah melakukan ini?"

Aku tidak mengerti apa yang ustadz Rahmat katakan. Aku langsung menemui ibu. "Bagaimana keadaan ibu? tanyaku.

"Badan Ibu rasanya lemas Nak. Kamu sudah pulang sekolah ya?" kata Ibu balik bertanya.

"Sudah, Bu. Ibu sudah makan? Naufal ambilkan makan untuk Ibu ya?" tawarku. Ibu kemudian mengangguk.

Saat aku kembali ke kamar, ibu sedang diperiksa ustadz Rahmat. Aku lihat perut ibu dipegang ustadz Rahmat. "Apa yang Ibu rasakan?" tanya Ustadz. Ibu diam sejenak.

"Panas, Pak. Padahal sebelum Pak Ustadz pegang, rasanya biasa saja. Tapi sekarang perut saya terasa panas. Seperti ada energi yang dialirkan," jelas Ibu.

Lalu Pak Ustadz memberi air sambil berkata, "Minumlah air ini pada pagi hari dan sisanya usapkan ke perut Ibu sambil membaca shalawat."

Tak terasa petang pun tiba dan ustadz Rahmat berpamitan. Saat aku sedang duduk di teras rumah, aku melihat burung gagak bertengger di pagar rumah. Baru kali ini aku melihat burung gagak di rumahku. Tapi aku tidak terlalu menghiraukan. Aku bergegas mandi. Selepas shalat Maghrib, aku pergi mengaji. Saat aku pamitan dengan ayah dan ibu tidak ada pertanda aneh.

Namun saat aku kembali, rumahku ramai. Banyak tetangga di rumahku. Aku semakin panik ketika mendengar suara gaduh dari dalam rumahku. Aku segera berlari ke dalam rumah. Di situ, ibuku sedang menjerit dan menangis. Mata ibu melotot merah. Ibu pun meracau tidak jelas.

Tetapi ada yang aneh. Suara itu, seperti bukan suara ibu. Suaranya sangat ngebas atau berat sekali. Entahlah aku panik sekali saat itu. Aku bertanya pada ayah, tapi ayah menyuruhku memanggil ustadz Rahmat. Segera aku berlari menemui ustadz dan menceritakan apa yang sedang terjadi di rumah.

Saat sampai di rumah, ustadz menyuruhku untuk mengambil air di dalam baskom. Setelah itu ustadz segera menangai ibuku. Ustadz lalu membacakan ayat-ayat Al-Qur'an kepada ibu. Ibu semakin histeris. Lalu tiba-tiba ibu pingsan. Tapi ibu bisa diajak bicara oleh ustadz.

Tolong ceritakan apa yang terjadi pada saudara saya ini," ujar Ustadz.

Ibu menjawab dengan suara yang parau,"Ono wong sing ngirimi rong atus demit neng omah iki. Ono demit neng weteng ibu iki" ("Ada orang yang mengirim dua ratus jin ke rumah ini. Ada jin dalam perut ibu ini").

Setelah mengucapkan hal itu, ibuku kmbali terdiam. Beberapa saat kemudian ibu sadar. Ketika merintih, aku yakin benar-benar suara ibuku, bukan suara jin atau demit tadi. Aku terheran-heran dengan apa yang aku lihat.

Peristiwa itu sungguh belum aku mengerti seluruhnya sehingga aku hanya bisa mematung di belakang ayahku. Saat rumahku kembali normal dan para tetangga sudah pulang, ayahku ngoborl dengan ustadz Rahmat. Aku yang sedang menunggu ibu di kamar tidak sengaja mendengar percakapan mereka.

"Sebenarnya ada apa Ustadz? Apa yang terjadi? Dan apa yang ustadz lakukan tadi?" tanya Ayah.

"Istri Bapak kerasukan jin jahat. Tadi saya memasukkan jin baik ke dalam tubuh istri Bapak untuk berkomunikasi dengannya. Jin itu mengatakan bahwa ada seseorang yang mengirimi 200 jin ke rumah ini dan ada jin yang masuk ke dalam perut istri Bapak. Mungkin itu sebabnya saat di USG janinnya tidak terlihat. Tolong Bapak ingat-ingat lagi, barangkali ada orang yang tidak suka dengan Bapak," ujar Ustadz.

"Sebenarnya ada sebuah rahasia yang istri saya tidak ketahui. Saat saya menikahi dia, sebenarnya saya sudah punya istri. Saya kabur dari rumah sehingga istri pertama saya itu sangat marah. Tetapi saya tetap meninggalkannya karena saya memang tidak mencintai dia. Saya menikahiya dengan terpaksa. Saya tidak tahu, apa mungkin dia penyebab ini semua?" tutur Ayahku.

Karuan saja aku terkejut mendengar pengakuan ayah. Aku pun nguping dengan seksama pembicaraan antara ustadz dan ayah.

Saran saya, sebaiknya Bapak menemui istri pertama Bapak dan memintalah maaf kepadanya. Niatkan dengan baik. Insya Allah, Allah akan mempermudah langkah Bapak. Sekarang saya pamit dulu. Assalamu'alaikum...." ucap ustadz Rahmat.

Entah bagaimana ayah menceritakan semuanya kepada ibu. Yang aku tahu, keesokan harinya ayah mengajak kami untuk menemui istri pertamanya. Kalau aku tidak salah hitung, hari itu adalah hari ke 40 sejak ibu mulai sakit. Dan seharusnya sebentar lagi ibu melahirkan. Namun sampai saatnya belum juga muncul tanda-tanda ibu akan melahirkan.

Setibanya di rumah istri pertama ayahku, jantugku berdebar lebih kencang. Aku takut hal yang tidak kami inginkan terjadi. Aku takut dia melukai ibuku. Aku berdoa dalam hati agar semua baik-baik saja. Ayahku mulai mengtuk pintu. Tidak ada yang menjawab salam.

"Ayah yakinn diabelum pindah?" tanya ibu.

"Ini rumah warisan orangtuanya, jadi kemungkinan kecil kalau dia pindah kalau dia pindah. Kecuali dia menjual rumah ini," sahut Ayah sambil mengetuk pintu lagi sambil mengucapkan salam.

Tidak lama aku mendengar suara orang melangkah dari dalam yang sepertinya akan membukakan pintu. Langkahnya sangat pelan. Langkahnya seperti diseret. "Wa'alaikumsalam...." jawab seseorang dari dalam rumah.

Dan saat pintu terbuka, aku dapat melihat ekspresi yang sangat terkejut di wajah wanita itu. Kalau dari fisik, wanita itumungkin berumur sekitara 40-an. Wajahnya belum terlalu tua tapi kalau aku perhatikan, masih kalah cantik dibanding ibuku.

"Rina, boleh kami masuk?" tegur Ayahku karena melihat wanita yang dipanggil Rina itu hanya terbengong di depan pintu.

"Si... silakan, Mas," jawab Rina akhirnya dengan terbata-bata.

"Kamu sehat, Rin? Bagaimana kabar Dimas? tanya Ayah setelah kami masuk dan duduk di ruang tamu. Aku dan ibuku hanya bisa diam. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran ibu. Mungkin dia sangat terpukul setelah mengetahui ini semua.

Namun mungkin juga bisa menerimanya karena toh perkawinan dengan ayah sudah berjalan puluhan tahun dan sudah dikaruniai anak, yakni aku dan sebentar lagi si kecil yang masih dalam kandungan ibu.

"Sehat, Mas.... Dimas baik-baik saja. Dia sudah kkelas 2 SMP." jawab wanita itu seadanya. Terlihat sekali bahwa dia sangat canggung. Di satu sisi, aku memendam emosi. Bagaimanna tidak, wanita yang berada di hadapan kami diduga berada dibalik sakitnya ibu selama ini.

"Alhamdulillah... O.. iya, Rin, jujur saja, aku ke sini ingin meminta maaf kepadamu karena telah meninggalkanmu. Dengan tulus aku memohon maaf. Ini istri dan anakku. Aku harap kamu bisa ikhlas menerima semua keadaan ini. Kamu pasti akan menemui pria lain yang jauh lebih baik daripada aku. Aku yakin itu. Dan kita akan bisa menjadi sahabat, keluargamu dan keluargaku. Apa kamu tidak mau menjalin hubungan baik denganku? Ayolah Rin... bagaimanapun kita pernah bersama dan tidak baik jika memutuskan tali silaturahmi. Orangtua kita sudah menjalin hubungan sangat lama. Apa kita tega merusak semuanya?" ucap Ayah. Aku melihat Ibu menetekan airmata.

"Aku juga minta maaf, Mas, karena selama hampir 10 tahun aku membencimu. bayanganmu tidak hilang dari pikiranku. Baiklah, mulai sekarang kita bangun semua dari awal. Dengan kehidpuan kita masing-masing," ucap wanita itu sambil menangis. Lalu ia menghampiri ibuku. Tanpa kuduga ia memeluk ibuku.

"Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf kepadamu. Aku sadar sekarang. Aku merasa sangat berdosa," ujar Rina. Aku terpaku melihat itu semu. Terlebih permohonan maaf yang dilakukan Tante Rina seperti bukan permintaan maaf biasa.

Seperti ada sesuatu yang ia lakukan dan kini dia merasa sangat menyesal. Aku menjadi semakin yakin, memang Tante Rina yang telah mengirim 200 jin itu ke rumahku. Aku akhirnya bisa menerima semaunya. Lagi pula kulihat ibu kemudian juga merangkul Tante Rina.

"Maafkan aku juga Mbak Rina. Semua yang telah terjadi biarlah berlalu," ujar ibu masih dengan tetap menangis. Sungguh situasi yang sangat mengharukan. Aku melihat dua wanita yang sama-sama mencintai ayahku, berpelukan. Setelah berbincang-bincang sesaat, kami pamit pulang. Aku merasa sangat lega. Semoga setelah ini semua peristiwa menyeramkan itu sirna.

Keesokan harinya, ibu mengeluh perutnya sakit. Kami sempat cemas. Namun setelah diperiksa ternyata ibu mau melahirkan. Segera ayah membawanya ke rumah sakit. Setelah melewati beberapa proses, akhirnya ibu melahirkan. Aku dan ayah sangat bersyukur karena bayi perempuan itu sehat wal'afiat. Alhamdulillah ya Allah.

Dan yang lebih membahagiakan kami, sejak saat itu tidak ada lagi kejadian buruk yang menimpa ibuku. Ayah dan ibuku berhubungan baik dengan Tante Rina. (*)

Sumber: Misteri Edisi 550 Tahun 2013

Jumat, 01 Maret 2013

Aji Aji Selingkuh si Budak Iblis

Oleh: Tia Aweni D. Paramitha

Perempuan ini, batinku, kurang ajar betul. Dia sudah merusak rumah tanggaku, merusak hubungan harmonisku dengan suami, dia pula yang merebut cinta Mas Haris, tapi berani-beraninya pula dia berkata kasar dan menghembuskan asap rokok ke mukaku. Rasanya, ingin sekali aku menampar mukanya, atau merusak wajahnya yang cantik itu dengan pisau belati.

* * * * * * * * * *



Hati kecilku bertanya, mau apa sih sebenarnya Si Anita itu? Dia sudah punya suami, tiga anak, punya pekerjaan tetap dengan gaji besar, tapi kok masih mengejar suami orang? Dia gatol betul menguber suamiku, Haris Laksono, ayah dari dua anakku, Heidy dan Arlita, buah cinta kami yang sangat kami sayangi!

"Anita, maaf ya, apa sih sesungguhnya yang kamu cari dari suamiku? Kenapa sih kau terus menerus menggoda Mas Haris, bukankah kau sudah punya suami yang hebat, pejabat lagi dan kedudukanmu sendiri di perusahaan asing bagiku baik!" kataku, saat aku mengundangnya untuk bertemu di restoran Amigos Hill View di Kemang Jakarta Selatan.

Dengan tenang dan santai, sambil mengisap rokok Dunhill hijaunya dia berucap. "Karin, kau jangan resah dan tak perlu cemas dengan keadaan ini. Janganlah kau pikir hanya aku yang menguber suamimu, tapi tanyalah pada suamimu dari hati ke hati, apakah dia tidak menguber aku, apakah suamimu tidak mencintai aku. Tanya pula padanya, apakah dia tidak tidur denganku setiap usai acara makan siang bersama?" desis Anita, sambil tersenyum sinis.

"Jadi kalian sudah tidur?" tanyaku, dengan emosi meninggi dan dada bergemuruh karena dibakar cemburu. "Sekarang kau tak perlu tanya aku, tapi tanyalah pada suamimu, tanya dia, apakah tidak pernah hubungan intim denganku, setiap satu minggu sekali bobo-bobo siang denganku di hotel berbintang lima?" cetus Anita, semakin nyantai, menghisap rokok putihnya yang dalam, lalu seenaknya asapnya dihebuskannya ke mukaku.

Perempuan ini, batinku, kurang ajar betul. Dia sudah merusak rumah tanggaku, merusak hubungan harmonisku dengan suami, dia pula yang merebut cinta Mas Haris, tapi berani-beraninya pula dia berkata kasar dan menghembuskan asap rokok ke mukaku. Rasanya, aku ingin sekali menampar mukanya, atau merusak wajahnya yang cantik itu dengan belati. Tapi aku masih berpikir panjang, aku masih punya rasa malu, aku masih punya rasa risih dan jengah dengan tamu-tamu lain restoran Amigos Hill View di sekitar kami.

"Kau perempuan bejat, jahat dan laknat Anita, semoga Tuhan menghukummu sesuai kesalahan dan dosa-dosamu, kejahatanmu terhadap kemanusiaan, terhadap aku dan anak-anakku. Kau talh menghancurkan rumah tanggaku, menghancurkan biduk kebahagiaan rumah tangga kami, kau hancurkan kebahagiaan kedua anakku, kau manusia brengsek Anita, jahannam kau!" tekanku, sambil menahan suara kerasku.

Lalu aku mengancamnya dengan sengit. "Anita, bila kau masih meneruskan hubungan gilamu itu dengan suamiku, aku akan melaporkan hal ini kepada suamimu yang pejabat kementerian itu dan aku akan mengundang pers, melakukan press conference, akan kubongkar semua kejahatanmu ini dan keluarga besarmu akan malu oleh pemberitaan itu nanti. Lihat Anita, aku akan melakukan hal itu, sekali mandi biarlah basah sekalian, mari kita rusk-rusakan sekalian!" bentakku.

Tetap dengan nyantai Anita menantang balik. "Silakan elo lapor ke suamiku, silakan elo sebarkan masalah ini ke pers, gue malah senang, gue beken gara-gara diekspose oleh pers, koran-koran dan televisi, biar gue bisa ngetop dan jadi selebriti yang diperbincangkan dan menjadi buah bibir banyak orang. Horee, gue akan segera menjadi orang terkenal di negeri ini," balas Anita, sambil cekikikan, suara tertanyanya yang keluar, mirip sekali suara kuntilanak.

Setelah membayar makan siang itu, aku terus menghambur ke mobilku dan malaju menuju rumahku di Rawamangun, Jakarta Timur. Sementara Anita juga keluar restoran dan memacu mobil sedan barunya, yang baru saja dibelikan oleh suaminya itu.

Pada malam harinya, menjelang tidur, pukul 24.00 tengah malam, aku mengajak Mas Haris bicara dari hati ke hati. Namun di luar dugaanku, Mas Haris acuh tak acuh dan menolak, lalu dia mengatakan bahwa dia sedang lelah dan tidak mau bicara malam itu.

"Apa yang akan kau bicarakan, aku sudah tahu semuanya dari Anita. Dia menelpon saya sore tadi!" desis Haris, sambil menguap lalu merebahkan dirinya di tempat tidur.

"Jadi betul Mas berhubungan cinta dengan Anita Sarnita itu?" tanyaku, dengan nada meninggi.

"Betul, aku betul berhubungan cinta dengannya dan aku akan segera menikahinya bila urusan perceraiannya dengan Hamid Syamsudin itu selesai di pengadian agam," aku suamiku, Haris, enteng saja, sambil memeluk guling.

"MMas, kalau memang benar kau mau menikahi dia, Mas ceraikan aku dulu. Aku tidak akan menerima dimadu apalagi bermadu dengan perempuan iblis seperti dia itu," kataku, penuh emosi.

"Bagus, kalau kau minta cerai dariku, aku akan segera mengurus perceraian kita, kita bercerai!" ungkap Haris, santai.

Jantungku berdebar hebat, kepalaku pusing tujuh keliling dan mataku pun berkunang-kunang. Rasanya kakiku tak kuat lagi menopang tubuhku, oleng dan akan terjatuh, tapi aku berusaha tegak dan tetap berdiri baik.

"Baiklah, cepat urus perceraian kita dan aku akan membawa dua anak kita ke kampung, mereka akan aku bawa ke Bantul. Yogyakarta dan bersekolah disana, aku akan tinggal dengan orang tuaku di sana," kataku, sambil tak tahan lagi menahan tangisku yang meledak.

Perceraianku benar-benar diurus oleh Mas Haris. Aku yang menggugat cerai tapi Mas Haris yang menyelesaikan di peradilan agama Pulogadung, Jakarta Timur. Mediasi pernah dicoba, tapi tidak berhasil yang keputusan cerai pun berikut surat cerai kami pun keluar dalam waktu kurang dari sebulan.

Sementara itu, Anita juga bercerai dengan suuaminya lalu dia menikah resmi dengan suamiku setelah habis masa iddah. Anak-anak Anita tinggal bersama suaminya, lalu Anita tinggal sama suamiku di rumah kami di Rawamangun. Anita berhenti kerja dan mantan suamiku, lalu naik pangkat dan menjadi direktur eksekutif di perusahaan Amerika tempatnya bekerja.

Aku memulai hidup baru di kampungku, di Desa Sidodadi, Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku melamar kerja di perusahaan mebel rotan milik Pakde Harjono dan aku diterima sebagai pegawai karena kebetulan pegawai lama ke luar negeri. Pakde Harjono menggaji aku layak dan cukup untuk menopang kehidupan kami, termasuk biaya sekolah dua anakku yang baru masuk ke bangku SD.

Heidy dan Arlita bersekolah di SD Negeri Sewon, Bantul, berjalan kaki dari rumah kami yang berjarak hanya satu kilometer. Dua anakku itu sangat prihatin dan memahami keadaanku, sehingga mereka mau hidup sederhana di desa. Cuma, yang membuat saya sedih, kedua anakku itu secara diam-diam selalu kangen kepada bapak mereka di Jakarta, dan diam-diam keduanya selalu bercerita tentang kebaikan bapaknya. Tapi, agar mereka tidak terus terhanyut, aku gambarkan pada mereka bahwa bapaknya tidak sayang sama mereka, buktinya, dia tidak kangen dan tidak berusaha menemui mereka yang hidup susah di kampung.

Hidup terus menggelinding, kehidupan terus berputar bagaikan roda pedati yang terus berlari. Tidak teras, tanggal 23 November 2011 lalu, aku sudah setahun tinggal di Bantul. Tidak terasa pula, anak-anak sudah setahun berpisah dengan bapaknya. Bahkan, jangankan menemui, menelpon pun, tidak dilakukan Mas Haris untuk anak-anaknya.

Anak-anakku tentu saja bersedih akan kenyataan ini, tapi aku selalu membesarkan hati mereka Aku berharap agar mereka dapat melupakan ayah meraka, sampai kapanpun. Hal itu aku lakukan agar anak-anakku tudak berkecil hati, tidak kecewa dan sakit hati.

"Lebih baik lupakan ayah kalian itu, nanti, jika kalian sudah besar, carilah dia ke Jakarta dan dia pasti menerima kalian secara baik," kataku, membesarkan hati dua anakku.

Setelah setahun menjadi janda, banyak pria yang mendekatiku, baik pria lajang maupun duda-duda , bahkan pria beristri. Tapi entah kenapa, hatiku belakangan ini menjadi dingin kepada kepada laki-laki. Yang ada di otak dan pikiranku hanyalah anakku. Dua buah hati yang menjadi jantung hidupku dan tumpuan harapanku.

Aku ingin mereka hidup bahagia, sukses di pendidikan dan sukses menapaki kehidupan mereka. Aku tidak lagi memikirkan kesenangan pribadiku, kebahagiaan pribadiku dan kepentingan pribadiku. Yang aku pikirkan hanyalah Heidy dan Arlita, dua gadis kecilku, yang kuharapkan kelak mereka menjadi apa yang mereka inginkan. Heidy bercita-cita menjadi seorang dokter sedangkan Arlita bercita-cita menjadi seorang insinyur.

Di luar dugaan, pada saat kami bersantai di rumah si Mbah, pada hari Minggu, sebuah mobil Jeep Mercy warna hijau tentara, masuk ke halaman rumah. Nomor polisi mobil itu berhuruf B, yang berarti kendaraan dari Jakarta, yang disetir oleh pria berkacamata hitam dengan jaket kulit warna coklat tua.

Pria itu tak lain adalah Mas Haris, mantan suamiku dan bapak dari dua anakku. Dua anakku menyambut Mas Haris dengan baik dan Mas Haris memeluk mereka berdua dengan erat. Aku berdiri di depan pintu rumah dan bergulat dengan batinku yang mumbuncah sejuta rasa, emosi jiwa dengan pancaran rasa gundah gulana.

Mulany aku berpikir ada orang lain di mobil itu, batinku, bisa saja istrinya, Anita ikut serta. Setelah berpelukan lama dengan dua anaknya, Mas Haris berdiri menjabat tanganku. Tidak berapa lama ibu dan ayahku datang dari kebun belakang dan Mas Haris mencium tangan kedua orangtuaku, mantan mertuanya. Mas Haris dipersilakan masuk, lalu masuk sambil memegang tangan dua anaknya, Arlita dan Heidy.

Seelah meminta maaf kepada kedua orangtuaku, atas kesalahannya selama ini dan kedua orangtuaku memaafkan, Mas Haris menceritakan keadaan hidupnya, di mana dia telah bercerai resmi dengan istrinya Anita.

Anita ternyata berselingkuh lagi dengan suami orang, suami teman kerjanya lalu berencana juga menikah dengan suaminya itu. Aku berlagak tidak mendengarkan cerita ini dan lalu aku pergi ke dapur memasak opor, kebetulan ayam dan kelapa serta bumbu-bumbunya sudah aku beli dari pagi, di Pasar Bringharjo belakang Jalan Malioboro. Aku naik sepeda motor matic bebek, setiap hari kerja dan untuk bepergian.

Di luar dugaanku, Mas Haris kembali melamar aku, meminta aku untuk kembali menjadi istrinya lagi kepada kedua orangtuaku. Ayah dan ibuku setuju saja atas lamaran itu, tapi mereka menyerahkan semuanya kepadaku. "Yng bersangkutan dengan masalah ini adalah Karina, bukan kami maka itu mintalah kepada Karina," kata ayahku nyantai saja kepada Mas Haris.

Mungkin karena hatiku masih terluka, trauma dan fobia atas kejadian masa lalu, maka aku tidak berniat sama sekali untuk menerima pinangan itu. Rasa benci dan rasa luka masih menggelayut batinku, utnuk itu aku menolak permintaan rujuk dari Mas Haris. "Tidak Mas, aku sudah betah hidup sendiri dan lebih nyaman dengan kesendirian ini, apalagi tinggal di kampung ini bersama dua anakku dan dekat dengan ayah dan ibu," kataku singkat.

Mendengar penolakan ini, Mas Haris nampak kecewa dan bersedih, tapi aku acuh tak acuh saja dengan kesedihannya itu. "Sebaiknya Mas Haris pulang buru-buru ke Jakarta, biarkan kami di sini, kami yang sudah tenang dan hidup tentram serta sangat berbahagia di daerah ini," kataku.

Tanpa kusadari, Mas Haris menagis dan menjatuhkan dirinya dikakiku lalu mencium kakiku, meminta maaf sebesar-besarnya dan berjanji tidak akan membuat kesalahan lagi. "Ayolah Karin, tolonglah aku, kembalilah bersamaku dan kita tinggal di Jakarta, dan sumpahlah aku dengan kitab suci bahwa aku bersumpah tidak akan berselingkuh lagi, Karin," harapnya.

Tanpa kusadari, dua anakku sudah berdiri di dekatku, Heidy dan Arlita. Kedua anakku lalu terduduk bersama papa mereka, keduanya menangis tersedu, sambil mengharapkan agar aku menerima papa mereka untuk dijadikan suami lagi. Setelah itu, mereka berharap kami kembali ke Jakarta dan menempati rumah kami di Rawamangun yang telah kosong.

"Ayolah Ma, terimalah Papa, Papa bersumpah akan berubah dan Papa berjanji akan membahagiakan kita di Jakarta, ayolah Ma," desis Arlita, sambil menangis. Setelah itu, Heidy juga berharap, juga menangis, menghendaki aku menerima ayah mereka dan kami kembali hidup rukun di ibukota.

Banyak hal yang bisa aku tolak di dalam kehidupan ini, tetapi ada satu hal yang paling tidak bisa aku tolak dalam hidup ini, yaitu adalah permintaan anak-anakku. Karena hal itu menjadi kehendak dan permintaan serius dua anakku, maka aku pun merubah pikiran.

Aku berusaha untuk menerima kembali Haris sebagai suami, walaupun dengan hati yang masih sangat berat. Aku lalu dipeluk oleh kedua anakku dan mereka menciuam pipiku bertubi-tubi pertanda senang hati, karena aku mau menerima ayah mereka untuk menjadi suami lagi.

Karena sudah nyaman bekerja dan tenang di Bantul, maka aku meminta kepada Mas Haris agar kami untuk sementara tetap di Bantul, sedangkan dia tetaplah di Jakarta. Setiap hari Jumat sore, menjelang liburan kerja, dia datang ke Bantul. Setelah diresmikan menikah lagi, rujuk, Mas Haris pulang ke Jakarta, lalu untuk selanjutnya dia pulang pergi Jakarta-Yogya untuk menjenguk kami.

Tanggal 17 Agustus 2012 lalu, di tengah bulan puasa, kami semua datang ke Jakarta. Niat kami, selain menengok rumah kami dulu di Rawamangun, kami juga mau jalan-jalan ke Dunia Fantasi, Ancol, dan Taman Mini. Begitu sampai di rumah kami di Rawmangun, tetangga kami Bu Endang datang menjengukku. Kami saling kangen dan berpelukkan erat dengan berurai airmata.

Bu Endang bukan seperti orang lain, dia sudah seperti saudaraku sendiri karena kami saling bantu membantu dan tolong menolong selama ini.. Semua keluarga besarnya dekat dengan aku, begitu juga anak-anakku, semuanya dekat dengan Bu Endang. Diam-diam, selama Anita menjadi istri Mas Harisdi rumah itu, Bu Endang mengintip kehidupan Anita, wanita yang telah tega merebut cinta suamiku itu.

Setiap malam Jumat, Anita pergi sendirian ke laut selatan tanpa sepengetahuan Haris. Bersama seorang dukun mumpuni, Ki Mandau Tajamah, 56 tahun, Bu Endang menerawang apa yang dilakukan oleh Anita di pantai selatan Banten itu. Syahdan, maka terkejutlah aku. rupanya untuk mendapatkan kecantikan dan resep awet muda, Anita memuja setan, memuja iblis dan bersekutu dengan makhluk terkutuk itu

Kata Ki Mandau, makin banyak Anita berselingkuhdengan suami orang, maka makin awet medalah dia. Makin banyak berselingkuh dengan laki orang, maka makin cantiklah dia. Perjanjian dengan iblis itu bernama Janji Keramat Malam, suatu janji untuk merusak rumah tangga orang agar kecantikannya, didigjayaan serta awet mudanya terus berlangsung.

Bila sudah sampai 100 laki orang yang direbut, maka Anita tidak akan tua-tua. Kulitnya akan semakin kencang bagaikan remaja terus dan kecantikannya terus bersinar bagaikan bidadari malam. Semua pria akan terkagum dengan keseksian tubuh, kekuningan kulit serta kecantikannya yang mahasempurna karena Janji Keramat Malam dengan iblis tersebut.

Ternyata, diam-diam, karena kasihan denganku, solider denganku, Bu Endang meminta Ki Mandau untuk meritual suamiku, melepaskan aji-aji iblis oleh Anita yang tersangkut padanya, hingga setelah sadar, dia langsung melepaskan Anita sebagai istri. Pantas saja, Mas Haris sekarang ini bukan saja benci, tapi mau muntah hanya mendengar nama Anita, mantan istrinya yang pemuja setan itu. Bahkan, kini, Anita menikah dengan seorang pria muda, suami dari seorang bintang film.

"Targetnya seratus pria beristri yang harus dirusak, sesuai perintah iblis yang jadi pujaannya," kata Bu Endang, sambil memelukku. Duh Gusti, aneh sekali seorang seperti Anita itu, yang cantik dan awet muda karena memuja setan, bersekutu dengan iblis demi keadaan lahiriyahnya yang sebenarnya sangat sementara. Tapi, jalan itu telah ditempuhnya dan ternyata membuatnya bahagia, walau pun neraka Jahannam telah menunggu di depan mata, di mana dia akan nyemplung ke api neraka, yang membakar hidupnya selamanya. (*)

Sumber: Misteri, Edisi 550, tahun 2013